DIKALA SENJA MELIHAT DUNIA

Friday, March 2, 2018

Ketika memasuki usia kandungan 37 Weeks, aku sudah mulai mempersiapkan keadaan yang siaga. Karna waktu anak pertama yaitu Sada, dia lahir pada usia kandungan 37 Weeks menuju 38 Weeks. Pada saat itu aku sempat merasakan proses melahirkan normal, yang pada kenyataannya proses tersebut berakhir dengan tindakan C-Section karna pembukaanku tidak berkembang hanya stuck di 4 selama 24 jam dalam kondisi kontraksi yang semakin cepat dalam hitungan detik. Oleh karena itu, di kehamilan kedua ini aku merencanakan untuk melalui proses melahirkan C-Section lagi. Alasannya, aku tidak mau mengambil resiko lagi dan bekas operasi pertamaku masih jelas terlihat ditubuhku. Proses melahirkan anak keduaku ini sangat berbeda dengan anak pertamaku. Karna semuanya jelas direncakanan. Dari jam operasi, hari dan tanggal terkecuali Mental :D entah kenapa walaupun proses melahirkan ini direncakan tetapi ko mentalnya malah menciut? hehee Deg-degan nya luarrrr biasa sekali.. Ketika waktu dikasih tau harus masuk ruang operasi pada jam 15:30, rasanya ko waktu berjalan lamaaa sekali.



Hari itu adalah hari Minggu tanggal 11 Februari 2018. Sebelum operasi biasanya kita disuruh puasa dulu minimal 6 jam sebelum tindakan. Suamiku Pandu ikut masuk ke dalam ruang operasi, atas permintaanku dan juga persetujuan dari Dokter kandunganku. Yang aku paling ingat, saat masuk ke ruang observasi aku masih sibuk dengan handphoneku untuk order Gojek karna ada barang yang tertinggal di rumah hahaha! Keadaan di ruang observasi sangat tenang dan dingin, hanya aku satu-satunya pasien disana yang akan menjalani operasi C-Section. Sekiranya kurang dari 5 Menit aku dibantu dorong untuk masuk ke ruang operasi untuk di anastesi. Suamiku Pandu harus menunggu diluar sampai aku selesai di anastesi. Semua yang berada diruang operasi berusaha menenangkanku karna aku terlihat sangat tegang sekali! :D Dokter Anastesi datang menghampiriku dan bilang "Relax saja ya bu.. sebentar lagi saya akan suntik ya.." Ketika melalui proses Anastesi Epidural, aku ngga berhenti untuk membaca ayat kursi sambil memeluk bantal. Anastesi Epidural kali ini sangat aku "nikmati" , sampai rasa jarum yang masuk ke bagian tulang belakangku pun hingga sekarang masih aku ingat rasanya. Sakit, tetapi ternyata rasa sakitnya masih bisa ditahan dan hilang dengan cepat! Dalam hitungan kurang dari beberapa menit, Anastesi tersebut sudah mulai aku rasakan karna setengah dari badanku sudah mati rasa dan kaki ku terasa sangat berat tidak bisa diangkat.


Suamiku Pandu lalu masuk ke dalam ruang operasi dan menyapa ku dengan tersenyum sambil tidak berhenti mencium keningku. Sepertinya dia tau kalau aku sangat cemas sekali menjalani operasi C-section yang kedua ini. Sepanjang operasi berlangsung aku tidak bisa menahan air mataku yang terus membanjiri wajahku.. Yang terdapat dipikiranku adalah Sada yang tidak berhenti tersenyum kepadaku. Sepertinya rasa gundah yang aku rasakan ketika proses operasi berlangsung. "Apakah sudah siap aku memberikan rasa kasih sayang lagi? Apakah Sada akan merasa senang atau sedih?" Ngga berhenti aku membaca Al-fatihah dan juga Ayat kursi agar hatiku lebih tenang.



Pada jam 17 : 22 Alhamdulillah dia lahir untuk melihat dunia, Svara Senja Panduwinata dengan berat badan 2.97kg Panjang badan 49 cm. Svara yang artinya "Goddess of sound" dalam bahasa Sansekerta, Senja yang bagi kami adalah langit yang paling terindah ketika langit berwarna Senja. Svara Senja yang berarti Suara kebahagiaan yang turun ketika langit senja :) Senja lahir bertepatan dengan Sore hari ketika langit hari itu berwarna Senja.




Semoga Senja dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga dan juga semua orang yang ada disekitarnya :)

No comments:

Post a Comment